A.
KONSEP DASAR TEORI
I. DEFINISI
Meningitis merupakan inflamasi yang terjadi pada
lapisan arahnoid dan piamatter di otak serta spinal cord. Inflamasi ini lebih
sering disebabkan oleh bakteri dan virus meskipun penyebab lainnya seperti
jamur dan protozoa juga terjadi. (Donna D.,1999).
Meningitis adalah radang pada meningen (membran
yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri
atau organ-organ jamur. (Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges,
biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok,
Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus). (Long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput
meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses
infeksi pada sistem saraf pusat. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001).
Meningitis
adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater,araknoid dan
dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis
yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996).
Meningitis adalah suatu peradangan pada selaput otak
mengenai sebagian dan seluruh atau seluruh selaput otak (meningen) yang
melapisi otak dan medula spinalis, yang ditandai dengan adanya sel darah putih
cairan serebrospinal. (Suriadi : 2001 : 201).
Meningitis adalah peradangan pada mengingen, cairan
serebrosoinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem
saraf pusat. (Suriadi : 2001 : 1).
Meningitis adalah
radang selaput otak (araknoid dan piameter). (Ilmu Kesehatan Anaka : 1994 : 558).
II.
ETIOLOGI
Meningitis
disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien dengan
meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak,
infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang. Seperti disebutkan diatas
bahwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri, maka meningitis dibagi
menjadi dua bagian besar yaitu : meningitis purulenta dan meningitis serosa.
1.
Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis
diantaranya :
a.
Haemophillus influenzae (Tipe B),
b.
Nesseria meningitides (meningococcal),
c.
Diplococcus pneumoniae (pneumococcal),
d.
Streptococcus (grup A),
e.
Streptococcus haemolyticuss,
f.
Streptococcus pneumonia,
g.
Staphylococcus aureus,
h.
Escherichia coli,
i.
Klebsiella,
j.
Pseudomonas aeruginosa, dan
k.
Mycobacterium tuberculosa.
Tubuh
akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan
terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan
eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan
subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan
lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan
menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak
akan mengalami infark.
2. Meningitis
Virus
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”,
dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna. Tipe
dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Ini biasanya disebabkan
oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti;
a.
Coxsacqy,
b.
Virus herpes, baik herpez simplek maupun herpez zoster,
c.
Arbo virus,
d.
Campak dan varicela,
e.
Toxoplasma gondhii, dan
f.
Ricketsia.
Eksudat
yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis
virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi
pada seluruh koteks cerebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari
jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang
terlibat.
3. Meningitis jamur : Kriptokokal meningitis adalah serius dan fatal. Bentuk penyakit
pada pasien HIV/AIDS dan hitungan CD< 200.Candida dan aspergilus adalah
contoh lain jamur meningitis.
4. Protozoa.
5. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering
dibandingkan dengan wanita.
6. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada
minggu terakhir kehamilan.
7. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi immunoglobulin, anak
yang mendapat obat – obatan imunosupresi.
8. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injuri yang
berhubungan dengan sistem persarafan.
(Donna D., 1999).
III. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala meningitis secara umum :
1.
Aktivitas/istirahat ; Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter,
kelemahan, hipotonia.
2.
Sirkulasi ; Riwayat endokarditis, abses otak, TD ↑, nadi ↓, tekanan nadi
berat, takikardi dan disritmia pada fase akut.
3.
Eliminasi ; Adanya inkontinensia atau retensi urin.
4.
Makanan/cairan ; Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit
jelek, mukosa kering.
5.
Higiene ; Tidak mampu merawat diri.
6.
Neurosensori ; Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi,
“Hiperalgesia” meningkatnya rasa nyeri, kejang, gangguan oenglihatan, diplopia,
fotofobia, ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil
keputusan, afasia, pupil anisokor, hemiparese, hemiplegia, tanda ”Brudzinski” positif, rigiditas nukal, refleks babinski posistif, refkleks
abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki.
7.
Nyeri/kenyamanan ; Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan
okuler, fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh.
8.
Pernafasan ; Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas ↑, letargi dan
gelisah.
9.
Keamanan ; Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi
pelvis, abdomen atau kulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia
sel sabit, imunisasi yang baru berlangsung, campak, chiken pox, herpes
simpleks. Demam, diaforesios, menggigil, rash, gangguan sensasi.
10.
Penyuluhan/pembelajaran ; Riwayat hipersensitif terhadap obat,
penyakit kronis, diabetes mellitus.
Tanda dan gejala meningitis secara khusus :
1. Anak dan Remaja
a) Demam
b) Mengigil
c) Sakit kepala
d) Muntah
e) Perubahan pada sensorium
f) Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal)
g) Peka rangsang
h) Agitasi
i) Dapat terjadi: Fotophobia (apabila cahaya diarahkan pada mata
pasien (adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI), Delirium, Halusinasi, perilaku agresi, mengantuk, stupor, koma.
2. Bayi dan Anak Kecil ; Gambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan dan 2
tahun.
a) Demam
a) Demam
b) Muntah
c) Peka rangsang yang
nyata
d) Sering kejang (sering
kali disertai denagan menangis nada tinggi)
e) Fontanel menonjol.
3. Neonatus :
Tanda-tanda spesifik : Secara khusus sulit untuk didiagnosa serta manifestasi tidak
jelas dan spesifik tetapi mulai terlihat menyedihkan dan berperilaku buruk dalam
beberapa hari, seperti ;
a.
Menolak untuk makan.
b.
Kemampuan menghisap menurun.
c.
Muntah atau diare.
d.
Tonus buruk.
e.
Kurang gerakan.
f.
Menangis buruk.
g.
Leher biasanya lemas.
Tanda-tanda non-spesifik :
a.
Hipothermia atau demam.
b.
Peka rangsang.
c.
Mengantuk.
d.
Kejang.
e.
Ketidakteraturan pernafasan atau apnea.
f.
Sianosis.
g.
Penurunan berat badan.
Gejala meningitis
diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :
3.
Iritasi meningen
mengakibatkan sejumlah tanda sbb :
a)
Rigiditas nukal (kaku
leher), Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya
spasme otot-otot leher.
b)
Tanda kernik positip:
ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki
tidak dapat di ekstensikan sempurna.
c)
Tanda brudzinki :
bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila
dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan
yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
4.
Mengalami foto fobia,
atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
5.
Kejang akibat
area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen
dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda
vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit
kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
6.
Adanya ruam merupakan
ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
7.
Infeksi fulminating
dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi
purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata.
IV. KOMPLIKASI
1.
Hidrosefalus obstruktif,
2.
MeningococcL Septicemia (
mengingocemia),
3.
Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal
bilateral),
4.
SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone ),
5.
Efusi subdural,
6.
Kejang,
7.
Edema dan herniasi serebral,
8.
Cerebral palsy,
9.
Gangguan mental,
10.
Gangguan belajar,
11.
Attention deficit disorder,
12.
Abses otak,
13.
Koma,
14.
Kehilangan
fungsi saraf,
15.
Kehilangan
pendengaran dan penglihatan ,
16.
Syok,
17.
KID (Kongesti
Intravaskuler Diseminata),
18.
Henti
nafas, dan
19.
Kematian
V. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Farmakologis
a. Obat anti inflamasi :
1) Meningitis tuberkulosa ;
a) Isoniazid 10 – 20 mg/kg/24 jam oral, 2 kali sehari maksimal 500
gr selama 1 ½ tahun.
b) Rifamfisin 10 – 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1 kali sehari selama 1
tahun.
c) Streptomisin sulfat 20 – 40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu, 1 – 2
kali sehari, selama 3 bulan.
2). Meningitis bacterial, umur < 2 bulan ;
a) Sefalosporin generasi ke 3.
b) ampisilina 150 – 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4 – 6 kali
sehari.
c) Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali sehari.
3). Meningitis bacterial, umur > 2 bulan ;
a) Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari.
b) Sefalosforin generasi ke 3.
b. Pengobatan simtomatis :
1) Diazepam IV : 0.2 – 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4 – 0.6/mg/kg/dosis
kemudian klien dilanjutkan dengan.
2) Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.
3) Turunkan panas ;
a) Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis.
b) Kompres air PAM atau es.
c. Pengobatan suportif :
1) Cairan intravena.
2) Zat asam, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar antara 30 – 50 %.
2. Perawatan
a. Pada waktu kejang :
a. Pada waktu kejang :
1) Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.
2) Hisap lender.
3) Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi.
4) Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya jatuh).
b. Bila penderita tidak sadar lama :
1) Beri makanan melalui sonda
2) Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah posisi
penderita sesering mungkin
3) Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau saleb
antibiotika
c. Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi,
dan jika ada inkontinensia alvi lakukan lavement.
d. Pemantauan ketat :
1) Tekanan darah,
2) Respirasi,
3) Nadi,
4) Produksi air kemih, dan
5) Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini adanya DC.
3.
Terapi
Anti Mikroba
a.
Antibiotika : Ampisilin/IV, 400 mg/kg BB/hari.
b.
Khloramfenikol,
100 mg/kgBB/hari.
c.
Mempertahankan hidrasi optimal dengan
pemberian cairan Dorrow glukosa secara intravena dengan kekuatan tetesan :
- 50 cc/jam/diatas 20 kg BB,
- 25 cc/jam/5-20 kg BB, dan
- 10 cc/jam/kurang dari 25 kg BB.
d.
Mencegah
dan mengobati komplikasi.
e.
Mengontrol kejang : Pemberian terapi anti
epilepsi ;
- Natrium fenobarbital/parenteral dengan dosis awal 7 mg/kg BB,
- Difenilhidantoin /IV, 5mg/kgBB/hari, dan
- Diazepam(valium)/IV, 0,5 mg/kgBB.
f.
Mengurangi meningkatnya tekanan intra kranial.
g.
Mengontrol
suhu badan.
VI.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan
laboratorium : Pemeriksaan
laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisa cairan otak. Lumbal
punksi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan tintra
kranial. Analisa cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan
konsentrasi glukosa. Pemeriksaan
darah ini terutama jumlah sel darah merah yang biasanya meningkat diatas nilai
normal. Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk
mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi. Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar
glukosa cairan otak. Normalnya kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai
serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menurun
dari nilai normal.
Pemeriksaan
radiografi :
CT-Scan dapat diindikasikan untuk mengevaluasi adanya
komplikasi dan dilakukan
untuk menentukan adanya edema cerebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya
biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.
1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :
a) Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan
keruh (berkabut), jumlah leukosit rendah, paling banyak polimorfonuklear leukosit dan protein tinggi glukosa rendah, kultur positip terhadap beberapa jenis
bakteri.
b) Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS
biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal atau agak sedikit tinggi, SDP sedikit tinggi, paling banyak berisi leukosit
mononuklear kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur
khusus.
2. Glukosa serum : meningkat (meningitis).
3. LDH serum : meningkat (meningitis bakteri).
4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan
neutrofil (infeksi bakteri).
5. Elektrolit darah : abnormal.
6. ESR/LED : meningkat pada meningitis.
7. Kultur darah/hidung/tenggorokan/urine : dapat
mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi, mungkin
ditemukan septikemia.
8. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi,
melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor.
9. Ronsen dada/kepala/sinus ; mungkin ada indikasi sumber
infeksi intra kranial.
11. JDL
: Peningkatan leukosit.
12. Elektrolit
darah : Mungkin terganggu, natrium darah dipantau untuk mengkaji terhadap sindrom
ketidaktepatan hormon anti diuretik (SIADH).
13. Kaku kuduk pada
meningitis bisa ditemukan dengan melakukan pemeriksaan fleksi pada kepala klien
yang akan menimbulkan nyeri, disebabkan oleh adanya iritasi meningeal khususnya
pada nervus cranial ke XI, yaitu Asesoris yang mempersarafi otot bagian
belakang leher, sehingga akan menjadi hipersensitif dan terjadi rigiditas.
14.
Pada pemeriksaan Kernigs
sign (+) dan Brudzinsky sign (+) menandakan bahwa infeksi atau iritasi sudah
mencapai ke medulla spinalis bagian bawah.
15.
Arteriografi karotis :
Letak abses.
16.
Pemeriksaan darah ini
terutama jumlah sel darah merah yang biasanya meningkat diatas nilai normal. Serum elektrolit dan
serum glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit
terutama hiponatremi.
17.
Perbandingan kadar
glukosa darah dengan kadar glukosa cairan otak :
normalnya kadar glukosa
cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar
glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal.
VII. PATOFISIOLOGI
- Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari
oroaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan
medula spinalis bagian atas.
Faktor predisposisi
mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel
sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan
pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian
tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen;
semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam
aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah
korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral.
Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen,
vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak
dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral.
Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang
terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak
(barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.
Pada infeksi akut pasien
meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak
dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan
dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat
terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh
meningokokus.
- - Efek peradangan akan menyebabkan
peningkatan cairan cerebro spinalis yang dapat menyebabkan obstruksi dan
selanjutnya terjadi hidrosepalus dan peningkatan tekanan intra
kranial.Efek patologi dari
peradangan tersebut adalah hiperemi pada meningen . Edema dan eksudasi
dari kesemuannya menyebabkan peningkatan tekanan intra kranial.
- Organisme
masuk melalui sel darah merah pada blood brain barier. masuknya dapat melalui
trauma penetrasi , prosedur pembedahan , atau rhinoria akibat fraktur dasar
tengkorak dapat menimbulkan meningitis, dimana terjadi hubungan antara CSF dan
dunia luar.
- Masuknya
mikroorganisme kesusunan saraf pusat melalui ruang sub arachnoid dan
menimbulkan respon peradangan pada via, arachnoid, CSF dan ventrikel.
- Dari
reaksi radang muncul eksudat dan perkembangan infeksi pada ventrikel, edema dan
skar jaringan sekeliling ventrikel menyebabkan obstruksi pada CSF dan
menimbulkan hidrosefalus.
- Umumnya
virus ensefalitis setelah masuk kedalam tubuh kemudian akan masuk kedalam
sususna limfatik, berkembang biak, ikut aliran darah dan menyebabkan infeksi
pada beberapa alat tubuh, pada keadaan ini timbul demam tetapi belum ada
kelainan neurologis.
- Virus
akan terus berkembang biak kemudian menyerang saraf pusat dan kemudian timbul
kelainan neurolgis.
- KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
1.1 Biodata
- Insiden tertinggi pada anak usia 2 bulan sampai 12
tahun.
- Laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita.
1.2 Keluhan
Utama
- Kejang dan kesadaran menurun.
1.3 Riwayat
Penyakit sekarang
a.
Gejala
infeksi akut : keadaan umum lemah, nafsu makan menurun,muntah serta pada anak
sering mengeluh sakit kepala.
b.
Gejala
tekanan intra kranial :anak sering muntah, nyeri kepala(pada orang dewasa),
pada neonatus kesadaran menurun dari apatis sampai koma, kejang umum.
1.4 Riwayat
Penyakit Dahulu
- Tuberkulosa, trauma kepala.
1.5 Riwayat
Penyakit Keluarga
- Dalam keluarga ada yang menderita penyakit tuberkulosis
paru pada meningen tuberkulosis.
1.6 ADL
a.
Nutrisi :
Menurunnya nafsu makan, mual, muntah dan klien mengalami kesukaran/tidak dapat menelan, dampak dari
penurunan kesadaran.
b.
Aktivitas
: Mengalami kelumpuhan dan kelemahan yang mengakibatkan gerak serta
ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan.
c.
Tidur :
Terdapat gangguan akibat nyeri kepala yang dialami.
d.
Eliminasi
: Terjadi obstipasi dan inkontinensia urin.
e.
Hygiene :
Sangat tergantung dalam hal perawatan diri karena penurunan kesadaran.
1.7 Pemeriksaan
a.
Pemeriksaan
Umum
- Suhu tubuh lebih dari 38 °C.
- Nadi cepat, tapi jika terjadi peningkatan tekanan intra
kranial nadi menjadi cepat.
- Nafas lebih dari 24 x/menit
b.
Pemeriksaan
Fisik
- Kepala dan leher : Ubun-ubun besar dan menonjol, strabismus dan nistagmus
(gerakan bola mata capat tanpa disengaja, diluar kemauan), pada wajah
ptiachiae, lesi purpura, bibir kering,sianosis serta kaku kuduk.
- Thorak / dada : Bentuk simetris, pernafasan tachipnea,
bila koma pernafasan cheyne stokes, adanya tarikan otot-otot pernafasan,
jantung S1-S2.
- Abdomen : Turgor kulit menurun, peristaltik usus menurun.
- Ekstremitas : pada kulit ptiachiae, lesi purpura dan
ekimosis, reflek Bruzinsky dan tanda Kernig positif, tanda hemiparesis.
- Genetalia : Inkontinensia uria pada stadium lanjut.
c.
Pemeriksaan
Penunjang
- Pungsi lumbal.
- Kultur darah.
- CT-scan
2. DIAGNOSA
KEPERAWATAN
2.1
Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas berhubungan dengan kelelahan, kelemahan dan penurunan
tingkat kesadaran.
2.2
Perubahan
perfusi jaringan (otak) berhubungan dengan proses inflamasi adanya peningkatan
tekanan intra kranial.
2.3
Perubahan
volume cairan (defisit) berhubungan dengan inadekuatnya intake dan kehilangan
yang abnormal.
2.4
Gangguan
pemenuhan kebutuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan
anoreksia, kelemahan, mual, muntah.
2.5
Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan immobilitas, diaforesis dan defisit neurologis.
2.6
Gangguan
rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan istirahat yang lama dan infasi meningeal.
3.
PERENCANAAN
3.1
DIAGNOSA
KEPERAWATAN I
Tujuan : Bersihan jalan nafas efektif, pemenuhan
kebutuhan O2 sesuai kebutuhan.
Kriteria Hasil :
1.
Tidak ada
suara nafas tambahan
2.
Frekwensi
pernafasan dalam batas normal (20-24 x/menit)
3.
Kebersihan
jalan nafas terjaga.
Rencana Tindakan :
1.
Dengarkan
suara nafas setiap 4 jam, segera laporkan adanya suara nafas tambahan seperti
whezing dan ronchi.
R/: Timbulnya akumulasi segera pada saluran nafas
ditandai dengan adanya suara nafas tambahan.
2.
Jaga
kebersihan jalan nafas, persiapkan peralatan suction didekat pasien.
R/: Penempatan peralatan suscion didekat pasien merupakan
salah satu alternatif untuk kecepatan dalam pemberian tindakan.
3.
Lakukan
program kolaborasi dan pemberian O2 sesuai dengan kebutuhan.
R/: Pemberian terapi O2 sesuai dengan
kebutuhan akan mencegah timbulnya hipoksia jaringan.
3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN II
Tujuan : Perfusi jaringan keotak dapat terjaga.
Kriteria Hasil :
1.
Individu
dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan sirkulasi perifer.
2.
Terhindar
dari trauma.
3.
Keluarga
dapat melaporkan perubahan pasien dalam peningkatan kenyamanan.
Rencana tindakan :
1.
Observasi
gejala-gejala dari peningkatan tekanan intra kranial.
R/: Peningkatan tekanan intra kranial merupakan salah
satu penyebab terjadinya syok
2.
Observasi
TTV tiap 1 jam.
R/: Perubahan jalan nafas, meningkatnya denyut nadi tanda
dari tekanan intra kranial meningkat
3.
Anjurkan
pasien untuk bedrest.
R/: Aktivitas menyebabkan meningkatnya metabolisme yang
dapat memperburuk keadaan dan TIK.
3.3
DIAGNOSA
KEPERAWATAN III
Tujuan : Tercapai keseimbangan cairan dan elektrolit
dalam darah.
Kriteria Hasil :
1.
Keadaan
serum dan elektrolit darah dalam batas normal.
2.
TTV
normal.
3.
Kulit
lembab, turgor kulit kembali dalam waktu 1 detik.
4.
Suhu
normal (36,5°C-37,5°C).
Rencana Tindakan :
1.
Obsevasi
TTV tiap 4 jam.
R/: Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan
salah satu tanda terjadi dehidrasi
2.
Deteksi
tanda-tanda dari dehindrasi seperti membran mukosa kering,rasa haus , penurunan
BB, penurunan produksi urine.
R/: Pengawasanan terjadi dehidrasi sangat membantu
menentukan output yang abnormal dan kriteria beratnya dehidrasi.
3.4
DIAGNOSA
KEPERAWATAN IV
Tujuan : Nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Kriteria Hasil :
1.
Pasien
tidak mual dan tidak muntah.
2.
Pasien
mengkonsumsi 75% nutrisi sesuai dengan umur.
3.
Menunjukkan
peningkatan BB.
Rencana tindakan :
1.
Kaji
makanan yang disukai pasien.
R/: Dengan mengetahui jenis makanan yang disukai pasien
akan sangat membantu dalam pemberian kalori sesuai dengan tingkat usia.
2.
Berikan
makanan dalam porsi sedikit tapi sering.
R/: Pengkajian makanan mempengarui selera makan dan
proses ogertif.
3.
Libatkan
keluarga dalam penentuan jenis diet yang digunakan.
R/: Partisipasi keluarga sangat menunjang dalam
keberhasilan perawatan dan proses penyembuhan pasien.
4.
Observasi
peningkatan BB.
R/: Peningkatan BB merupakan salah satu tanda keberhasilan
dari program yang dilakukan.
3.5
DIAGNOSA
KEPERAWATAN V
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan kulit.
Kriteria Hasil :
1.
Perubahan
posisi secara teratur.
2.
Dapat
mengidentifikasi kerusakan kulit.
3.
Kulit
selalu dalam keadaan kering.
Rencana tindakan :
1.
Jaga
kulit dalam keadaan bersih dan kering.
R/: Keadaan kulit yang kotor dan basah mempengaruhi
sirkulasi yang menyebabkan kematian jaringan dan terjadi ulkus
2.
Ubah
posisi tidur pasien setiap 2 jam.
R/: Penekanan yang lama pada kulit akan mempengaruhi
sirkulasi yang menyebabkan kematian jaringan dan terjadi ulkus.
3.
Gunakan
pakaian tipis dan menyerap panas.
R/: Pakaian yang tipis dan tidak menyerap panas akan
membantu.
4.
Lakukan
masase pada daerah kulit yang terjadi penekanan tiap 4 jam.
R/: Masase pada daerah kulit yang terjadi penekanan akan
membantu sirkulasi darah.
3.6
DIAGNOSA
KEPERAWATAN VI
Tujuan : Pasien menunjukkan peningkatan rasa nyaman.
Kriteria Hasil :
1.
Tidak
menunjukkan tanda-tanda kaku kuduk dan infasi meningkat.
2.
Tidak
terdapat nyeri kepala, kekuatan dan fotofobia.
3.
TTV normal.
4.
Tanda
kernig dan brudzenski.
Rencana tindakan :
1.
Observasi
tanda-tanda infasi meningeal.
R/: Adanya infasi meningeal akan meningkatkan rasa nyeri.
2.
Observasi
tanda-tanda peningkatan TIK.
R/: Adanya peningkatan TIK dapat menyebabkan syok
meningeal.
3.
Atur
posisi pasien senyaman mungkin.
R/: Posisi nyaman mengurangi penekanan pada saraf
perifer.
4.
Ajarkan
teknik relaksasi dan distraksi.
R/: Mengurangi ketegangan pada otot
5.
Kolaborasi
pada tim medis untuk pemberian analgesik.
R/: Kolaborasi pada tim medis untuk pemberian analgesik.
DAFTAR PUSTAKA
Adele
Pelliteri.
(2001). Perawatan
Kesehatan Ibu dan Anak.
Jakarta : EGC.
Brunner & Suddarth. (1984). Medical
Surgical Nursing.
Philadelphia : JB
Lippincot Company.
Brunner
& Suddarth. (2000). Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC.
Doenges, Marilyn E, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made
Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin
asih. Ed.3. Jakarta : EGC.
Donnad. (1991).
Medical Surgical Nursing. WB Saunders.
Harsono. (1996). Buku Ajar Neurologi Klinis. Ed.I. Yogyakarta : Gajah
Mada University Press.
Kapita
Selekta Kedokteran FKUI.
(1999). Jakarta : Media Aesculapius.
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan.
Ngastiyah. (1997).
Perawatan
Anak Sakit. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia Anderson. (1994). Pathophysiology :
Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter
Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G. (2001). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa, Agung
Waluyo, dkk. Editor edisi bahasa
Indonesia, Monica Ester. Ed.8. Jakarta : EGC.
Suriadi.
(2001). Asuhan Keperawatan
Pada Anak.
Jakarta: PT. Fajar Interpratama.
Suriadi
& Yuliani, Rita. (2001). Asuhan
Keperawatan Pada
Anak. Edisi pertama. Jakarta :
KDT.
Tucker, Susan Martin et al. (1998). Patient care
Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC.
